27 Oct 2008

My New (Gift) Book

Last Sunday was one of Great Weekend I ever had in my life. First, finally I can visit one of person who had a special place in my heart n mind.

She's my beloved best friend, whom I considered as my Big Sister (since I never have any Big Bro or Sis in me entire life). She's the one of two persons who knows me well. I can be the real me, in font of her.

So, last Sunday, she brought me to the biggest mall in her home town. There, we went to movie, and while waiting for the movie, she brought me to Gramedia Book Store. See.. she really knows that book is one of things that can bright my day. I'm so simple, right???

I choose a book that I like. Actually, it's not a new book. It's been published for few years, but when ever I want to buy it, suddenly I just change my mind and bought another book. Silly me. So after some failure, I finally bought this book.


It's Torey Hayden book. You see, she's one of my fav writer. Thing which I like from her is b'cause it was based on true story. On her true experienced in handling kids with special needs, like autism. I really excited in reading things like this. Maybe b'cause I like kids, or maybe coz I really like to know about human behaviour. I don't know. The point is I like these kind of book a lot.

This book is not the only book that I get. I also get this book. The 3rd book of Andrea Hirata's Tetralogy. 'Edensor'. Well.. actually, I don't have the 2nd one, but I've red it months ago. So I think, its better if I buy the one which I haven't read. It's more efficient :D

What makes it more pleasant and touchy is that my sister insist that she's the one who's paying for those book. Even though I already told her that I'll pay for myself, but she's not allowing me to. She's so kind, isn't she????

I really love her a lot. Not because she bought me those books. No. Not at all. I love her just for kindness to others, for her dedication to her job, for her respect toward others and so many more. I really love her just the way she is.

My dearest sis.. Thank you so much for every thing. You'll never realize how much it means to me ^_^





26 Oct 2008

Tentang Film: Mupeng

Nda itu jarang banget nonton film Indonesia. Bukan berarti tidak mencintai produk dalam negri. Sungguh bukan itu. Tapi dalam pikiranku yang sederhana ini, ada banyak sekali film buatan dalam negri yang tidak mencerminkan budaya timur yang sepanjang usianya, selalu digaungkan di negri ini. Tidak usahlah bicara mengenai upacara-upacara adat atau hal-hal yang tradisional, mari bicarakan sajatentang kebiasaan-kebiasaan umum yang selama ini beredar di masyarakat.

Ok, back to our movie. Nda nonton film ini disalah satu bioskop or should i say, satu-satunya bioskop yang ada di jantung ibukota propinsi kalbar. Dibaris depan Nda duduk, full dipenuhi oleh anak abg yang ribut sekali dengan sekali dengan candaan mereka. And you know what, film itu dibuka dengan scene dimana ada seorang wanita yang membuka kulkas, dengan baju tidur berwarna biru muda teramat tipis. Pose yang ditampilkan adalah menungging didepan kulkas. Diperlihatkan pula, bagaimana posisi payudara perempuan itu seandainya kita berada dalam kulkas dan melihatnya langsung. Sementara disebelah kulkas berderetlah 3 orang pria (angga, abi, eksa) dengan mimik wajah mupeng (sesuai judul film itu). Ternyata, semua hanya mimpi dari ke-3 sahabat yg tinggal di satu kosan. Yup mereka bertiga mengalami mimpi yang sama. Selanjutnya, mimpi itu ereka artikan sebagai pertanda dari TUHAN untuk kondisi menjemukan yang meraka alami sehubungan dengan status jomblo mereka.

Selanjutnya... dalam film itu mengalirlah adegan-adegan yang dapat dikatakan berbau pornografi. Mulai dari kedatangan mahasiswi baru -Rebecca- yang selalu berpakaian minim dan digambarkan sebagai objek fantasi para pria dikampus itu.

Adapula Tomi, mahasiswa tajir yang selalu berganti pasangan dalam bercinta (dan selalu menceritakan semuanya kepada 2 sahabatnya) like it was something you should pride of.

Terus dan teruslah mengalir adegan yang kurang lebih seperti itu.

Memang sih, ada satu maksud yang ingin disampaikan dalam film itu. Kurang lebihnya yang Nda tangkap adalah bagaimana kita harus berusaha mencari tau apa yang kita inginkan dalam hidup dan kemudian berusaha meraihnyai. Dalam film ini sih hal itu diceritakan melalui tokoh Angga yang akhirnya berusaha menyatakan isi hatinya (yang telah dipendam selama bertahun-tahun) pada teman kuliahnya, Andita. But still, ada yang membuat saya kurang sreg ketika pada akhirnya Angga melakukannya. Jadi ceritanya, Angga datang kerumah Andita yang ternyata sedang keluar bersama orang tua dan adiknya. Ketika Andita pulang, Angga pun langsung menyatakan isi hatinya, plus kata-kata yang kurang lebih begini:
"aku sudah lama ingin memeluk dan menciummu"

jawaban Andita kurang lebih begini:
"ya udah buktiin donk"

Apa Angga melakukannya? I mean, ada orang tua Andita loh disana (even agak jauh). And the answer is YES. He DID IT!!

Mau tau reaksi orang tua Andita??
They just smile and nod their head. Yup!! Cuma senyum dan menganggukan kepala.

Apa benar itu yang terjadi di masyarakat sekarang ini? In real life. Rasanya tidak kan?? Or at least tidak pada masyarakat pada umumnya. Lo bisa dimaki-maki klo berani kayak gitu. Apalagi klo baru jadian, or belom familiar sama ortu.

Ini yang Nda anggap tidak sesuai dengan budaya timur yang digaungkan selama ini. Lain dari itu, Nda rasa film ini tidak cocok jika dilihat oleh anak-anak abg yang masih labil dan belum bisa berpikir secara matang. Memang sih, di setiap loket tiket 21 sudah dituliskan bahwa ini untuk dewasa, tapi posternya yang lucu, plus bintang-bintang yang memang sudah dikenal bermain film komedi, membuat abg itu tertarik tanpa tau seperti apa ceritanya. Dan bukankah ketika kita membeli tiket pun tidak pernah ada pertanyaan 'umur berapa?', bahkan ketika yang membeli jelas-jelas berwajah abg.

Tidakkah ada keinginan dari semua (terutama yang sudah cukup umur) untuk melindungi generasi penerusnya??

23 Oct 2008

Ketemuan sama Mbak Hilda part II: Feeling, haruskah mutlak dipercaya, atau sekedar warning??

Melanjutkan cerita tentang ketemuan Nda dengan si Mbak Hilda. Kali ini yang akan Nda ceritakan adalah sesi dinner berikut pembicaraannya.

Setelah berpuluh menit berkeliling di Matahari yang kemuadian menghasilkan 2 buah kemeja pria itu, kami pun memutuskan untuk makan. Tempat yang akhirnya dipilih (tentunya setelah mengingat, menimbang, dll) adalah Noddles yang letaknya di basement. Namanya ada Noddles, pastilah menu utamanya aneka macam mie (lha wong interiornya aja berupa dinding merangkap topls yag berisi mie, bihun, pasta dan sejenisnya) even tetap ada menu lain such as nasi.

Biasanya neehh stiap kali kesitu, menu nda selalu Tom Yam Seafood (dimenunya sih bukan itu namanya) plus Thai Tea. Berkali-kali kesitu, Nda baru sekali coba menu lain, yaitu Ramen with duck n egg (once again, dimenu namanya bukan itu ya) plus teh tarik. Kali ini Nda mau coba menu lain deh. Masih sepuar ramen, tapi kali ini tidak berkuah seperti Tom Yam. Ada sih kuahnya, cuma kental dan manis. Maaf ya, ga sempet di foto, cuma bayangin aja deh ramen didasarnya, trs di atasnya dikasih dadar dan diatas dadar tuh ada baso kepitingnya. Enak juga sih, cuma manisnya itu looooohhh... secara Nda ga suka manis (kan udah manies ).

Seperti yang sudah-sudah, makan menjadi kurang nikmat jika tidak disertai ngobrol. Dan seperti peremuan-perempuan lain dijagat raya ini, topik yang dibicarakan pasti lah bervariasi bahkan dengan mudahnya berganti dan kembali lagi ke topik awal. Dan semua mengalir begitu saja tanpa direncanakan.

Obrolan kami dimulai dari kejadian di matahari tadi, kemudian berlanjut ke seputar kantor, dibumbui dengan cerita kelahiran putra pertama mas Dendy (one of my bro di GN). Congrads ya mas... akhirnya .. setelah kosong beberapa waktu, keinginanmu menjadi ayah terlaksana juga. I'm Happy for u bro ^_^

Ramen itu sudah setengah jalan ketika tiba-tiba mbak Hilda (yang sudah lebih dulu menghabiskan makanannya) bertanya dengan sedikii tak acuh "Kamu percaya feeling dek?". Ramen itu pun mendarat kembali di piring. "Percaya", jawaban singkat itu yang kuberikan padanya. "Klo feeling orang tuamu, kamu percaya?". Sempet kaget juga sih mendengar pertanyaannya. Hmm... pasti ada yang serius nehh. Klo engga, ga mungkin banget dia nanya begitu. Coz sepanjang pengetahuanku, dia itu percaya dengan feelingnya. "Emang ada apa?". Dan mengalirlah ceritanya bahwa ibunya memiliki feeling kuat bahwa umur ayahnya tidak lama lagi.

Apa aku kaget?? Jelas!!
Terkejut?? So pasti!!

Dan membuatku merasa susah untuk menjawab. Tapi Nda tetap menjawab pertanyaannya, sesuai dengan apa yang Nda percaya dan rasakan. Kurang lebihnya beginilah jawaban Nda:
"Mbak, gw tipe orang yang percaya pada feeling. Terutama untuk orang-orang yang dekat di hati gw. Tidak harus keluarga, tapi mereka yang berarti buat gw. Tapi jangan jadikan jawaban gw ini harga mati untuk apa yang lo alami sekarang." (jeda sebentar untuk menenangkan diri). "Nah, perasaan lo sendiri gimana?"

Dan kurang lebih dia menjawab seperti ini:
"Tadinya gw ga terlalu memikirkan itu dek, tapi setelah nyokap berulang kali mengatakannya, gw jadi memperhatikan. Apalagi baru gw sadar bahwa bokap, akhir-akhir ini memang agak aneh. Dia seperti mau menyiapkan gw bila sewaktu-waktu dia ga ada. Contohnya ya memaksa gw untuk belajar setir mobil, ngasih tau rute-rute yang non 3 in one. Dan setiap kali melakukan hal-hal seperti itu, dia selalu bilang 'jadi nanti klo papi ga ada, kalian ga bingung'.

Hati Nda mencelos dengernya. Nda tau banget betapa si mbak satu ini begitu dekat dengan papinya. Selama papinya sakit, dialah yang lebih banyak mengurus (bersama maminya, tentu).

Dan dengan bodoh (saat itu Nda merasa bodoh dan useless), Nda cuma bisa bilang "Mbak, selama ini gw itu selalu berharap yang terbaik namun bersiap yang terburuk. Karna apapun juga, semua tergantung pada kuasa dan kehendak Tuhan."

Apa kalian tau jawabnya: "Gw yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik buat gw dan keluarga. Tapi kalaupun yang terburuk yang terjadi, gw rasa gw siap dek. Tanpa ada penyesalan. Karna gw sudah mengupayakan yang terbaik buat papi gw. Cuma gw ga kebayang aja, dengan cara apa Tuhan memanggil papi gw nanti. Apa dalam tidurnya, apa ketika check up, atau mungkin sakit lagi. Ga kebayang deh gw dek."

I'm so speechless. Kalimat yang terpikirkan (dan akhirnya kukatakan) adalah "Kita sama-sama berdoa untuk yang terbaik ya."

Sepanjang perjalanan pulang, Nda memohonkan yang terbaik untuk mbak Hilda dan keluarganya. Waktu 2 tahun lebih, membuat Nda cukup mengenal dia dan segala ketegarannya menghadapi hidup.

Sepanjang perjalanan pulang itu juga, Nda berpikir. Apa sebenarnya feeling itu?? Apa gunanya ia?? Apa yang Allah inginkan dengan itu pada diri kita (saya terutama) yang lemah dan minim pengetahuan ini.

Adakah yang bisa membantu Nda menjawabnya???

21 Sept 2008

Tragedi Zakat, haruskah??

Siang menjelang sore tadi, Nda nonton tv. Berhubung rasanya ga ada yang menarik, jadilah Nda pencet-pencet remote yang ga jelas. Sampai akhirnya menemukan acara SILET. Bukan yang berita artis lho, tapi yang JERITAN. Tadi itu topiknya adalah Zakat Maut. Serem ya judulnya????? Dan memang agak menyeramkan isinya. Hmmm.. lebih tepatnya sih memilukan. Nda memang sudah baca berita itu di koran beberapa hari yang lalu. Melihatnya di tv, itu sungguh pengalaman lain. Apalagi di tv di tayangkan dengan jelas bagaimana orang yang mayoritas Ibu-ibu itu berdesakan diluar pagar. Bagaimana mereka diidorong, disikut, sampai akhirnya ada yang terjatuh dan terinjak-injak oleh sesamanya. Bahkan ditayangkan pula para korban yang kehilangan nyawanya. Mereka digeletakkan di ubin dengan kain yang mengikat kedua tangannya di dada. Berjejer di ubin dingin, mengunggu sanak saudara untuk mengenali dan menjemput mereka yang sudah tak bernyawa, hanya demi uang zakat sebesar 30ribu rupiah.

Nda tidak mengecilkan nilai zakat yang dibagikan. Bukan itu. Seratus rupiah pun patut kita hargai dan syukuri. Apalagi di zaman sekarang, yang serupiah pun sangat berharga. Hanya saja, semurah itukah nyawa manusia saat ini? Sejumlah 3 lembar uang sepuluh ribuan???? Tidak adakah cara lain yang lebih aman dan manusiawi untuk membagikan zakat?? Cara yang bisa membuat orang miskin merasa dihargai. Bukankah diseantero negri ini ada banyak sekali badan/organisasi yang dapat dipercaya untuk menyalurkan zakat.

Dalam pikiran sederhana Nda selama ini, Ramadhan adalah bulan istimewa dimana kita bisa berbagi. Bukan berarti bulan lain tidak bisa berbagi, tapi hanya dalam Ramadhan kita bisa benar-benar mengerti arti lapar dan haus. Lalu jika bulannya sudah istimewa, mengapa kita tidak berlaku istimewa juga. Tidak hanya kepada BELIAU yang menjanjikan pahala bagi kita. Tapi juga kepada saudara-saudara yang tidak seberuntung kita. Bukankah melalui mereka pahala itu dijanjikan. Lalu mengapa menyusahkan mereka??? Sungguh Nda tidak habis pikir.

Sekarang... apa yang terjadi pada keluarga yang ditinggalkan?? Mereka yang mungkin telah berharap banyak melalui kepergian ibu-nya untuk mencari uang tambahan, kini malah mendapati kabar buruk.

Apakah ini arti Ramadhan???
Apakah ini arti berbagi melalui zakat???

Jika tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah, apakah tangan yang terulur dalam tragedi ini masih bisa dikatakan lebih baik????

Ya Rabb.. sungguh aku berlindung pada-MU dari kemungkinan menzalimi saudara ku.