Siapa sih yang gak punya panutan atau idola?? Rasanya sih gak ada ya. Tiap orang, saya yakin, pasti punya sosok yang dikagumi. Biasanya sih..sang idola itu memiliki kelebihan atau kemampuan khusus yang menarik minat atau menginspirasi mereka. Contohnya, dari kalangan artis, pengusaha, politisi atau siapapun yang dianggap membanggakan. Termasuk juga dari kalangan Dai, Kiai, atau Ustad.
Tak jarang sang penggemar (Fans) berusaha untuk dekat dengan para idolanya itu dengan menjadi anggota fans klub (jika ada) atau dengan berperilaku, berpikiran, atau bergaya sesuai idolanya. Mereka tak segan-segan merogoh kantong demi 'kecintaan' pada idolanya itu.
Dulu, jaman saya masih sekolah, ada 2 orang teman yang ngfans banget sama salah satu boyband luar -Back Street Boys-. Mereka ikut fans klubnya, beli semua pernak perniknya, mengkliping semua artikelnya, memajang postersnya, membeli kasetnya, bahkan menangis sedih ketika salah satu personilnya mendapat musibah. Suatu hal yang sangat mengherankan untukku. Karna saya tidak pernah mengalami histeria semacam itu ketika 'menyukai' sesuatu atau seseorang. Apa mungkin karena saya tidak sungguh-sungguh menyukai??
Saya sempat bertanya-tanya, Apa saya ini aneh?? I mean... saya tidak pernah sekalipun mengalami histeria itu. Atau mungkin, karena setiap menyukai atau kagum pada seseorang, saya lebih terfokus pada usahanya untuk mencapai apa yang mereka miliki sekarang. Ketekunannya, kerja kerasnya, things like that. Atau...karena saya selalu berpikiran bahwa mereka adalah manusia seperti saya dan jika mereka bisa, maka saya pun bisa. Atau mungkin, karna saya selalu merasa bahwa tidak seharusnya memperlakukan orang lain secara berlebihan. Bagaimanapun, sesuatu yang berlebihan kan sama tidak baiknya dengan sesuatu yang kurang. Lagipula, dengan memperlakukan mereka secara wajar, maka kemungkinan merasa kecewa jika suatu hari mereka yang kita idolakan tidak berbuat seperti yang kita harapkan.
Apa yang saya pikirkan itu terbukti melalui kasus poligami yang dilakukan Aa Gym. Weits... tunggu dulu, jangan berprasangka dulu. Tulisan ini bukan untuk menjudge Aa. Memangnya siapa saya sampai menjudge?? Ini hanya sekedar sharing atas fenomena tersebut. Kasus itu kan mengehbohkan sekali, sampai-sampai Bapak SBY berkomentar dan menghimbau para pejabat sehubungan dengan itu (yang oleh sebagian dianggap sebagai pelanggaran privasi).
Ceritanya begini, ketika kasus poligami Aa mencuat, banyak sekali yang berkomentar, termasuk juga teman-teman saya di kampus. Kebanyakan dari mereka (terutama yang perempuan), mengutuk keras bahkan menghujat plus mengumpat tindakan Aa. Seru banget deh. Padahal, setau saya mereka itu adalah para fans Aa. While me, uhmm...... saya memang sering juga datang kekajiannya, dan jika itu dianggap bentuk rasa suka, then let it be. But FYI, i'm not his fans.
So.. minggu lalu beberapa temen kampus terlibat pembicaraan heboh mengenai kasus ini. Aku yang baru datang setelah menikmati makan siang, hanya bisa tersenyum mendengarnya. Waktu mereka minta komentarku, aku bilang kalau apa yang dilakukan Aa adalah sesuatu yang sangat manusiawi (terlepas dari benar atau salah). Hanya saja, statusnya sebagai pemuka agama -yang disukai banyak orang- maka sekecil apapun yang dilakukannya akan menjadi sorotan. And you know what?? Komentarku itu dianggap bentuk ketidaksolideran terhadap Teh Ninih (istri Aa). Padahal bukan itu maksudku. Sebagai perempuan aku pasti ikut merasa sakit tapi aku berpikir kalau apapun yang mereka lakukan pasti sudah dipikir masak-masak. I mean, mereka berdua kan pemuka agama yang tau sekali sedala resiko dan konsekwensi tindakannya. Dan untuk Teh Ninih, sebagai daiyah, beliau pasti tau sekali resikonya ketika menerima dipoligami. Aku melihat itu sebagai bentuk ujian dari Allah. Itu adalah bentuk ujian atas apa yang telah mereka dakwahkan selama ini.
Sekali lagi kutegaskan bahwa tulisan ini bukan untuk menjudge, melainkan sebagai pengingat bagiku untuk tidak terlalu mendewakan orang lain. Bahkan ketika orang tersebut memiliki kelebihan (dalam bentuk apapun) dibandingkan kita. Karena bagaimanapun hebatnya, mereka hanyalah manusia biasa yang selalu memiliki kemungkinan untuk melakukan kesalahan, apapun bentuknya.
Bahkan junjungan kita, Nabi Muhammad SAW yang sungguh sangat berahlak mulia pun pernah melakukan kesalahan yang ditegur langsung oleh Allah SWT (diambil dari seri Nge-Friend sama Islam) dalam surat Abasa ayat 1-4.
Jika Nabi yang dijamin surga saja bisa salah, apalagi kita.
===Meruya, Desember 2006===
11 Mar 2007
5 Mar 2007
AYAH
Kelam, Sunyi, Sepi
Mendekap bisu
Hati menyatu, berbisik
Air mata menetes – Kita Berpisah-
Ayah
Kau berangkat dengan berjuta asa
Merengkuh Dayung Menentang Ombak
Bergumul dengan gelombang kerinduan
Wajahmu tak pernah murung
Ayah
Kau berjuang, membanting tulang, mencari nafkah
Tekadmu satu.. demi keluargamu
Semangatmu tak pernah pudar
Bagai lilin tertiup angin namun tak padam
Kau ajar kami bersyukur, mengharap ridho Ilahi
Ayah
Cintamu tulus
Kau pahlawan tanpa nama
Pahlawan Keluarga
Ayah
Angin malam berhembus semilir
Mengiringi doa anakmu ini
Selamat berjuang AYAH---
(Sepenggal puisi untuk para AYAH--wish my Dad would do the same)
Mendekap bisu
Hati menyatu, berbisik
Air mata menetes – Kita Berpisah-
Ayah
Kau berangkat dengan berjuta asa
Merengkuh Dayung Menentang Ombak
Bergumul dengan gelombang kerinduan
Wajahmu tak pernah murung
Ayah
Kau berjuang, membanting tulang, mencari nafkah
Tekadmu satu.. demi keluargamu
Semangatmu tak pernah pudar
Bagai lilin tertiup angin namun tak padam
Kau ajar kami bersyukur, mengharap ridho Ilahi
Ayah
Cintamu tulus
Kau pahlawan tanpa nama
Pahlawan Keluarga
Ayah
Angin malam berhembus semilir
Mengiringi doa anakmu ini
Selamat berjuang AYAH---
(Sepenggal puisi untuk para AYAH--wish my Dad would do the same)
28 Nov 2006
Namaku, Identitasku
Apalah arti sebuah nama
Itu kata ‘om Shakespeare’. Tapi coba aja bilang gitu sama orang tua dari Indonesia. Atau bahkan orangtua dari benua Asia, kemungkinan besar sih akan didemo. Gimana engga, bagi para orangtua, nama itu bagian dari doa dan pengharapan atas anak-anaknya. Ga mungkin kan mereka pilih nama sembarangan. Pasti dah melewati serangkaian ‘fit & proper test’ bahkan perdebatan sering antara calon orang tua yang terkadang bahkan melibatkan keluarga besar (ya nenek, kakek, om, tante, pokoknya ramai deh). Tiap kata yang diberikan pasti punya makna khusus. Entah itu diambil dari Kitab Suci, entah itu dari bahasa asing, atau bentuk penghormatan pada seseorang (dengan mengabadikan nama orang tersebut pada anaknya). Intinya sih selalu ada makna yang sangat berarti. Pun ketika nama itu dianggap aneh, ‘kampungan’ baik oleh oranglain maupun oleh si anak sendiri nantinya. Atau mungkin, harapan yang ada pada namaya, tidak terwujud dalam keadaan nyata.
Nama juga merupakan identitas diri bagi siapapun yang menyandangnya. Seringkali kita dapat dengan mudah mengenali asal atau agama seseorang dari namanya. Tak jarang, kita dapat mengenali kedudukan orang dari namanya.
Tulisan ini terinspirasi dari 2 hal yang belum lama terjadi padaku. Pertama adalah cerita salah seorang teman dimilis yang menceritakan tentang anaknya yang bernama ‘Aisyah’. Aisyah kecil bertanya kenapa namanya tak ‘seindah’ nama teman-temannya. Temanku ini memutuskan untuk menceritakan siapa ‘Aisyah’ ini. Bahwa ia adalah salah satu pendamping Baginda Rasul yang memiliki banyak keistimewaan. Tak cukup dengan cerita, temanku ini membelikan buku-buku cerita yang menjelaskan siapa Aisyah ini. Akhirnya sang anak bisa mengerti dan merasa senang dengan namanya.
Yang kedua adalah isi dari buku yang baru selesai kubaca. Buku itu karangan seorang penulis India yang bercerita tentang sebuah kluarga Imigran. Dimana salah satu anak dari kluarga tersebut tidak suka dengan nama pemberian orang tuanya. Ia mengalami ‘krisis identitas’ karna nama pemberian ayahnya tidak mewakili daerah asalnya (India) dan tidak juga mewakili Negara tempat ia lahir dan besar (amerika). Ayahnya menamainya dari salah satu pengarang favoritnya yang berasal dari Rusia, GOGOL. Tapi nama GOGOL itu tidak hanya sekedar bentuk kecintaan sang ayah pada pengarang itu. Ada kisah lain didalamnya. Bahwa sang ayah disuatu ketika dulu, merasa diselamatkan oleh salah satu buku karangan GOGOL. Belum sempat sang ayah menceritakan ihwal namanya, sang anak keburu berganti nama.
Entah kenapa fenomena anak ini menarik perhatianku. Bagimana sebuah nama bisa menjadi sumber kebahagiaan juga ketidakbahagiaan. Tergantung dari mana kita melihatnya dan bagaimana kita melihatnya dan tentunya, siapa yang melihatnya. Bukan berarti aku memiliki masalah dengan namaku loh ya. Alhamdulillah aku tidak pernah memiliki masalah dengan nama ini. Everything is ok.
AMANDA. Itulah salah satu kata dari 3 kata yang dirangkai menjadi nama panjangku yang merupakan nama panggilanku. Kata bunda, nama itu diambil dari karakter film jaman dulu. Karna anak yang beenama Amanda dalam film itu berkarakter kuat, pemberani dan selalu riang. Pernah juga sih, iseng cari artinya di buku kumpulan nama anak (waktu itu aku lagi main ke toko buku). Katanya sih Amanda itu berarti Cantik. Ada arti lainnya juga lho!! Artinya--- Yang patut dicintai. Tapi yang paling membahagiakan adalah singkatan AMANDA yang dipilih orang tuaku.
AMANDA, Bagi mereka berarti Amanah Dari Allah. Bagus kan artinya. Perkara apakah pada kenyataannya ada yang tidak sesuai dengan harapan itu, aku rasa akan menjadi nomor sekian. Yang terpenting niat awalnya adalah baik. Sekarang adalah bagaimana menjaga niat dan mengaplikasikannya dalam tindakan nyata.
Bukankah begitu??
Itu kata ‘om Shakespeare’. Tapi coba aja bilang gitu sama orang tua dari Indonesia. Atau bahkan orangtua dari benua Asia, kemungkinan besar sih akan didemo. Gimana engga, bagi para orangtua, nama itu bagian dari doa dan pengharapan atas anak-anaknya. Ga mungkin kan mereka pilih nama sembarangan. Pasti dah melewati serangkaian ‘fit & proper test’ bahkan perdebatan sering antara calon orang tua yang terkadang bahkan melibatkan keluarga besar (ya nenek, kakek, om, tante, pokoknya ramai deh). Tiap kata yang diberikan pasti punya makna khusus. Entah itu diambil dari Kitab Suci, entah itu dari bahasa asing, atau bentuk penghormatan pada seseorang (dengan mengabadikan nama orang tersebut pada anaknya). Intinya sih selalu ada makna yang sangat berarti. Pun ketika nama itu dianggap aneh, ‘kampungan’ baik oleh oranglain maupun oleh si anak sendiri nantinya. Atau mungkin, harapan yang ada pada namaya, tidak terwujud dalam keadaan nyata.
Nama juga merupakan identitas diri bagi siapapun yang menyandangnya. Seringkali kita dapat dengan mudah mengenali asal atau agama seseorang dari namanya. Tak jarang, kita dapat mengenali kedudukan orang dari namanya.
Tulisan ini terinspirasi dari 2 hal yang belum lama terjadi padaku. Pertama adalah cerita salah seorang teman dimilis yang menceritakan tentang anaknya yang bernama ‘Aisyah’. Aisyah kecil bertanya kenapa namanya tak ‘seindah’ nama teman-temannya. Temanku ini memutuskan untuk menceritakan siapa ‘Aisyah’ ini. Bahwa ia adalah salah satu pendamping Baginda Rasul yang memiliki banyak keistimewaan. Tak cukup dengan cerita, temanku ini membelikan buku-buku cerita yang menjelaskan siapa Aisyah ini. Akhirnya sang anak bisa mengerti dan merasa senang dengan namanya.
Yang kedua adalah isi dari buku yang baru selesai kubaca. Buku itu karangan seorang penulis India yang bercerita tentang sebuah kluarga Imigran. Dimana salah satu anak dari kluarga tersebut tidak suka dengan nama pemberian orang tuanya. Ia mengalami ‘krisis identitas’ karna nama pemberian ayahnya tidak mewakili daerah asalnya (India) dan tidak juga mewakili Negara tempat ia lahir dan besar (amerika). Ayahnya menamainya dari salah satu pengarang favoritnya yang berasal dari Rusia, GOGOL. Tapi nama GOGOL itu tidak hanya sekedar bentuk kecintaan sang ayah pada pengarang itu. Ada kisah lain didalamnya. Bahwa sang ayah disuatu ketika dulu, merasa diselamatkan oleh salah satu buku karangan GOGOL. Belum sempat sang ayah menceritakan ihwal namanya, sang anak keburu berganti nama.
Entah kenapa fenomena anak ini menarik perhatianku. Bagimana sebuah nama bisa menjadi sumber kebahagiaan juga ketidakbahagiaan. Tergantung dari mana kita melihatnya dan bagaimana kita melihatnya dan tentunya, siapa yang melihatnya. Bukan berarti aku memiliki masalah dengan namaku loh ya. Alhamdulillah aku tidak pernah memiliki masalah dengan nama ini. Everything is ok.
AMANDA. Itulah salah satu kata dari 3 kata yang dirangkai menjadi nama panjangku yang merupakan nama panggilanku. Kata bunda, nama itu diambil dari karakter film jaman dulu. Karna anak yang beenama Amanda dalam film itu berkarakter kuat, pemberani dan selalu riang. Pernah juga sih, iseng cari artinya di buku kumpulan nama anak (waktu itu aku lagi main ke toko buku). Katanya sih Amanda itu berarti Cantik. Ada arti lainnya juga lho!! Artinya--- Yang patut dicintai. Tapi yang paling membahagiakan adalah singkatan AMANDA yang dipilih orang tuaku.
AMANDA, Bagi mereka berarti Amanah Dari Allah. Bagus kan artinya. Perkara apakah pada kenyataannya ada yang tidak sesuai dengan harapan itu, aku rasa akan menjadi nomor sekian. Yang terpenting niat awalnya adalah baik. Sekarang adalah bagaimana menjaga niat dan mengaplikasikannya dalam tindakan nyata.
Bukankah begitu??
24 Nov 2006
Good Luck Bro'
Inget 2 orang ‘abang’ yang aku ceritakan beberapa bulan yang lalu??? Yup.. tht’s right… my dynamic duo. Tau ga sih, aku akan kehilangan keduanya. Well sebenarnya aku dah kehilangan satu diantara mereka karna dia diterima CPNS di salah satu Departemen.
Nah per satu desember (bulan depan) abangku yang satu akan menyusul. Disatu sisi aku seneeeng banget mereka dapet kesempatan lain yang lebih baik. I mean, siapa sih yang ga menginginkan peningkatan dalam hidupnya (yang salah satunya melalui pekerjaan). Disisi lain, aku sedih juga soalnya akan kehilangan temen berbagi dan berdebat. Terlebih lagi, dibanding dengan yang lain, aku lebih banyak menghabiskan waktu bekerja dengan mereka. Selama ± 2 tahun ini, mereka berdua itu temen cerita, temen berantem, temen berdebat juga. Mereka yang mengajarkan bahwa salah paham dikerjaan harus tetap berada dalam koridor pekerjaan, tidak sampai ke hubungan pribadi as a friend.
Kebayang kan sedihnya aku.. but then again aku pernah baca klo akan ada banyak orang yang datang dan pergi dikehidupan kita as human being. Mereka datang untuk mengajarkan kita sesuatu. Untuk memberi pelajaran dan pencerahan. Rasa suka dan duka yang kita alami bersama mereka akan memperkaya pengalaman hidup kita. Akan menambah warna dalam album kenangan kita. Mereka juga ambil bagian dalam pembentukan karakter kita.
Ketika mereka pergi, berarti tugas mereka bersama kita telah selesai dan sudah ada tugas lain menanti mereka. Sekarang tugas kita adalah menebarkan semua benih kebaikan yang telah mereka ajarkan pada kita. Sukur2 klo kita bisa melipat gandakan benih kebaikan itu.
So.. for my dearest brother.. Selamat menempuh salah satu episode baru dalam kisah kehidupanmu. Semoga segalanya akan menjadi lebih baik sesuai keinginanmu..
I could only say WISH U ALL THE BEST
Nah per satu desember (bulan depan) abangku yang satu akan menyusul. Disatu sisi aku seneeeng banget mereka dapet kesempatan lain yang lebih baik. I mean, siapa sih yang ga menginginkan peningkatan dalam hidupnya (yang salah satunya melalui pekerjaan). Disisi lain, aku sedih juga soalnya akan kehilangan temen berbagi dan berdebat. Terlebih lagi, dibanding dengan yang lain, aku lebih banyak menghabiskan waktu bekerja dengan mereka. Selama ± 2 tahun ini, mereka berdua itu temen cerita, temen berantem, temen berdebat juga. Mereka yang mengajarkan bahwa salah paham dikerjaan harus tetap berada dalam koridor pekerjaan, tidak sampai ke hubungan pribadi as a friend.
Kebayang kan sedihnya aku.. but then again aku pernah baca klo akan ada banyak orang yang datang dan pergi dikehidupan kita as human being. Mereka datang untuk mengajarkan kita sesuatu. Untuk memberi pelajaran dan pencerahan. Rasa suka dan duka yang kita alami bersama mereka akan memperkaya pengalaman hidup kita. Akan menambah warna dalam album kenangan kita. Mereka juga ambil bagian dalam pembentukan karakter kita.
Ketika mereka pergi, berarti tugas mereka bersama kita telah selesai dan sudah ada tugas lain menanti mereka. Sekarang tugas kita adalah menebarkan semua benih kebaikan yang telah mereka ajarkan pada kita. Sukur2 klo kita bisa melipat gandakan benih kebaikan itu.
So.. for my dearest brother.. Selamat menempuh salah satu episode baru dalam kisah kehidupanmu. Semoga segalanya akan menjadi lebih baik sesuai keinginanmu..
I could only say WISH U ALL THE BEST
Subscribe to:
Posts (Atom)