16 Jun 2006

Woman in Islam

A few months ago I got a new friend from YM. After all asl questions, he told me that he interested to know about Islam and started asking me about my feeling being a Moslem gal. He thinks that Islam is being unfair to woman. There are so many rules and restriction for woman in Islam. Theres no freedom at all. Just like what he saw in Saudi Arabia where woman seemed had to rights at all.

I was quite shocked with his entire question from polygamy to veil, from clothes to oral sex. I felt sorry for him. I mean, with all of those questions, he should find someone whose expert in this, not me. Im only a gal with so little knowledge. Its a shame, I admitted, but thats the way it is. On the other hand, Im glad God send me this guy who makes me realize that I must deepen my knowledge about my own faith. Something Ive been carried even before I was born and will carry it for the rest of my life.

So, at that moment I can only told him that I never felt not free as Muslim. About what he saw in Saudi Arabia, well I told him that he had to look carefully. I mean although SA is a Moslem country, in fact Islam was born there, but not all of things that come from SA is Islam. It could be SAs tradition.

Here in Indonesia, where most of the people are Moslems, we woman can have good education, a proper work, an opportunity as much as men, but still can do our obligation as Muslim.

Its little bit hard to convince him that Islam respect woman. That Islam never abandon woman, especially after what he saw in SA, plus my limited knowledge & my limited vocabulary. 

A few weeks after that chat, I found this book called Proud to be Muslimah (In Indonesian) that explain all negative thinking about Islams policy on woman, all misinterpretation on womans position in Islam. This book consists of 7 chapters that explain about Polygamy, Divorcement, Inheritance, Leadership, Violence, Womans Testimony and Jilbab (veil??). I got lots of knowledge after reading it, especially on those 7 issues.

This book explains all the reason behind all restrictions/rules on woman. Here, youll that man and woman is equal both in reward and punishment.


Whoever works righteousness, man or woman, and has faith, verily, to Him will We give a new life, a life that is good & pure, and we will bestow on such their reward according to the best of their action.
(16:97).


In fact, Islam honoured woman deeply. You can see it from this story that was happened a long time a go.
(I translate it with my own language, May God forgive me).

A long time a go a man come to Prophet Muhammad, peace be upon him. The man asks: Rasulullah, who had the ultimate right to be treated well?Rasulullah saidL Your mother, the man said: whos next? He said:Your mom, the man asked: whos next? He said: Your mother. The man asked: whos next? and He said: Your father.

It shown that Islam do respects woman and never treat woman as second degree community. What ever Islam do on woman, its always for their own safety and for the sake of their own.

Nothings wrong in Islam. When you see something wrong in Muslims attitude, its not Islams fault. Its pure from the person itself since as human being, we are full of mistakes. As human being we have limitedness in interpret ting something. Sometimes, or should I say most of the times, we interpret something based on our ego in order to fill our needs only.


===one day in dec 2005===

24 May 2006

Lepas Jilbab

Baru saja aku ngobrol di telepon dengan salah satu teman sekampusku. Di berusia beberapa tahun diatasku, bahkan sudah menikah dan memiliki buah hati. Awalnya pembicaraan kami hanya seputar tugas kampus, modul dan UAS yang akan menjelang. Perlahan tapi pasti, obrolan kami berkembang bebas. Mulailah kami bicara soal kerjaan (aku tanya apa ada lowongan dikantornya), bicara soal perkembangan radang diwajahku (yang alhamdulillah sudah much.....much.....better), pokoknya berbagai macam topik. Sampai akhirnya dia mengatakan bahwa beberapa waktu lalu ia bermaksud menelponku untuk sharing (tapi sayangnya no hp-ku ga ketemu). And do u know what......mbak-ku itu ternyata mau curhat soal jilbab. Dia itu kepengen banget lepas jilbab. Dia cerita klo keinginan itu teramat sangat menyiksa. Dia sudah sholat malam, sudah istiqharah, tapi keinginannya tak kunjung surut.. Selain mencoba konsultasi dengan Allah, dia juga coba minta pendapat orang-orang terdekatnya. Most of them .....tentu saja menolak keinginan-nya itu (dengan berbagai macam alasan tentunya). Itu membuat hati dan pikiran mbak-ku semakin kacau.

Saat dia menceritakan hal itu siang tadi, aku cukup terkejut. Namun aku jadi teringat beberapa tahun lalu, tepatnya dipertengahan tahun 2003. Saat itu aku pun memiliki keinginan yang sama. Tiba-tiba saja aku ingin melepas jilbab ini. Mungkin karna dasar pemahamanku yang lemah. Pemahamanku tentang agama masih cetek sekali even keputusanku untuk berjilbab (ya...jilbab gaul bukan jilbab lebar ) adalah murni keputusanku, tanpa paksaan orang lain. Saat itu, aku minta pertimbangan dari temanku yang sudah lebih dulu berjilbab. Kurang lebih inilah pendapatnya kala itu yang dinyatakan melalui sms-------Nda, apapun keputusan loe, gw akan tetap jadi teman loe. Nilai persahabatan itu kan ga diukur dari selembar jilbab tapi sebelum lo bener2 lepas, coba deh, duduk tenang n review kembali, dulu itu, lo pake jilbab itu karna apa? Karna siapa? Nah lo lepas juga karna apa or karna siapa?. Nah aku turutin deh kata2 dia. Aku merenung, mencoba menyelidiki diriku sendiri. Alhamdulillah aku dapat jawabannya. Ini pertama kalinya aku bekerja digedung perkantoran, yang sebagian besar penghuninya tidak berjilbab. Ada rasa terasing atau bahkan iri melihat mereka berpakaian modis.

Nah berbekal pengalaman pribadi itu, aku coba tanya ke mbak-ku itu. Apa dia ingin lepas jilbab karna rindu berpakaian modis? (even dah punya seorang putri badannya masih ok lho). Dan ternyata jawabannya ya! Aku cuma bisa kasih saran bahwa berkerudung pun bisa tampil modis, selama masih mengikuti aturan mainnya. Bukankah banyak majalah muslimah yang memberikan tips n trik untuk tampil modis??

Mbak-ku itu pun bertanya, apakah aku pernah berkeinginan melepas jilbab? Kuceritakan kisahku dimasa lalu, termasuk juga sms temanku. Selain itu, aku pun menceritakan salah satu langkah (selain merenung) yang kuambil ketika berkeinginan untuk lepas jilbab (Aku tidak berani menyarankan ini padanya, hanya bercerita krn langkah ini cukup ekstrim). Selain merenung, saat itu aku benar-benarlepas jilbab (Ya Allah, ampuni aku karna ini). Well.....salah satu kesukaanku sebelum berjilbab adalah krimbat di salon langgananku, didekat rumah. Nah kali itu aku krimbat disalah satu salon disalah satu mall di Jakarta Selatan. Jadi, aku pergi ke mall itu masih memakai jilbab, pun ketika aku memutuskan untuk krimbat. Setelah krimbat, aku tidak memakai jilbabku. And did u know what happen?? Selama berkeliling mall itu, aku merasa bahwa setiap orang memandangiku (keknya ga mungkin kan?? Aku kan ga kenal mereka) sehingga aku merasa risih. Kupaksakan juga untuk tetap berkeliling, keluar-masuk counter. Perasaanku semakin tidak nyaman, aku merasa bahwa setiap orang memandang dengan tatapan aneh selain itu, aku pun merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang terenggut. Dan perasaan-perasaan itu sungguh tidak enak.Tak tahan dengan perasaan itu, aku bergegas ke toilet dan memakai jilbab-ku kembali. Yang kurasakan adalah perasaan nyaman, perasaan terlindungi. Aku merasa bahwa setiap orang tersenyum kepadaku dan tidak menatapku dengan pandangan aneh lagi.
Itu pengalaman tak terlupakan yang pernah kualami. Alhamdulillah sampai hari ini aku tidak pernah berpikir untuk melepasnya lagi (dan semoga tidak akan pernah) walaupun apa yang kulakukan sekarang masih jauh dari sempurna. Namun, ber-jilbab membuatku lebih bisa me-rem tindakan yang kurang baik. So aku katakan pada mbak-ku untuk benar-benar memikirkannya kembali. Atau coba untuk tidak memikirkan keinginan itu, tapi bukan berarti untuk melarikan diri. Karna kadang, ketika kita sibuk berperangdengan keinginan kita, yang kita dapat hanya keruwetan.
Bagaimana dengan mbak-ku?? Alhamdullah sampai terakhir aku bertemu dengannya (kemarin tepatnya) dia masih tetap berjilbab. Keep up the SPIRIT ya mbak......!!!!!

============kertanegara No.4, started on Jan 13, ended on Jan 16, 2006============

22 May 2006

My Beloved Grandma

Hari ini, yangti-ku tersayang berumur 74 tahun. Biasanya kami merayakan ber-4 dirumah. Yangti, Bunda, Aku & Adikku. Bukan perayaan mewah, hanya sekedar makan bersama. Menunya tergantung keinginan Yangti tapi biasanya khusus untuk hari itu, kita beli diluar.

Hari ini tidak akan ada perayaan, tidak ada makan bersama karna Yangti berpulang kepada Pemiliknya, minggu lalu setelah 4 hari koma dan dirawat di Fatmawati.

Apakah aku sedih?? Tentu saja, selama 24 tahun hidupku, beliau selalu ada, bahkan melebihi keberadaan ibuku yang bekerja diluar rumah. Setiap kali aku pulang bepergian, darimana pun, dia yang pertama kali aku cari. Setiap hal yang terjadi padaku, sebelum orang lain tau, dia lebih dulu tau. She's my everything.

Yangti adalah tipikal wanita perkasa yang mandiri dan tidak suka menyusahkan orang lain yang tidak pernah berkata kasar atau bersuara keras.

Siapa yang menanam dia-lah yang menuai. Pepatah itu kubuktikan pada saat Yangtiku meninggal. Semuanya begitu mudah. Jenazah-nya boleh dibawa pulang tanpa proses berbelit padahal pada waktu itu biaya perawatannya belum terbayar. Dari mulai jenazah datang sampai pemakamannya banyak sekali yang datang dan mendoakan. Bahkan tanah untuk makamnya pun bisa didapat dengan mudah.

Saat memandikan jenazah adalah saat yang mendebarkan. Bukankah banyak sekali cerita-cerita tak menyenangkan saat pemandian. Alhamdulillah, ketakutan itu sirna karna proses memandikan kenazah yangtiku berlangsung lancar. Bahkan sahabatku ikut memandikan.

Sebelum kafan-nya ditutup (krn menunggu om-ku dari surabaya), Yangti-ku tampak seperti orang yang tertidur nyenyak. Ketika akhirnya dimakamkan, yang mengantarkannya cukup banyak. Cuaca pun mendung sehingga tidak membuat yang mengantar kepanasan.

Begitu sampai dirumah setelah pemakaman, tetangga-tetanggaku sudah menyiapkan makan siang untuk semua orang. Tikar dan karpet pun sudah bersih dari sisa-sisa daun pandan.

Yang lebih membuat-ku terharu dan shok adalah ketika malamnya tahlilan, yang datang tidak hanya tetanga sekitar rumahku, banyak sekali wajah-wajah yang tidak kukenal. Ternyata mereka adalah pengamen yang biasa menyanyi dikomplek rumahku.

Aku tak kuasa menahan haru, memuji kebesaran Allah atas semua kemudahan yang telah Ia berikan pada keluargaku.

Tak lupa rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah banyak membantu. Para tetanggaku di Komp. PPI II, sahabat-sahabatku Rika, Phe2t, Diana, Para Perawat dan tim dokter di Irna High Care RS. Fatmawati, Atasan dan rekan-rekan kerjaku di PT. Gardatama Nusantara, Yayasan Bunga Kamboja, dan semua pihak yang tak mungkin kusebutkan satu persatu.

Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan dan perhatian yang telah diberikan kepada keluargaku. Amiin.

19 Apr 2006

Semester 2

Alhamdulillah beberapa minggu lalu dah semester 2 bahkan beberapa minggu ke depan dah mau UTS. Seneng juga sih, hasil semester kmrn lumayan bgs, ga malu-maluin. Semester ini juga lumayan menyenangkan karna dapet tmn baru. Kan ada beberapa mata kuliah yang kelasnya gabungan. Tapiii.......yang aga menyebalkan adalah, ada salah satu dosen yang ga kira2 klo ngasih tugas. Udah gitu pake acara tugas kelompok. Dikiranya kantor kita pada sebelahan kali yaaa??? Jadi bisa chit-chat kapan aja. Bukannya males, tapi berhubung sambil kerja, keknya susah aja klo tiap minggu ada tugas. Untuk dateng on-time tiap minggu aja udah suatu perjuangan. Tau kan kuliah weekend, mau ga mau kan pake otak weekend juga. Nah otak weekend itu kan 90% pengennya istirahat, persiapan untuk berjuang minggu berikutnya.

Anyway.....emang dah resiko kali ya....sapa suruh ambil kuliah weekend. Besides, semua hal menuju peningkatan butuh pengorbanan kan??? Soo....enjoy aja!!