22 Jan 2009

Penyesalan, memang selalu datang terlambat

Nda terharu banget baca cerita ini (yang Nda dapet dari salah satu milis). Jadi teringat dengan seorang sahabat yang sedang 'dikejar' oleh pria yang sudah memiliki keluarga. Sahabat Nda itu sungguh tidak habis pikir, apa yang dicari pria ini darinya. Karna menurut sahabat Nda, pria ini memiliki keluarga bahagia. Harmonis dengan istri dan buah hatinya.



Nda tidak tau apa yang terjadi sebenarnya karna toh, Nda tidak kenal pria ini. Mungkin, dia sedang mengalami masalah dalam keluarganya. Mungkin dia sekedar bosan dengan rutinitas hidupnya, dan mencari tantangan baru (dan sahabat Nda dianggap sebagai salah satu tantangannya). Atau mungkin dia hanya mengalami puber kedua. Bukankah pria mengalami hal itu??? Dan sepanjang pengalaman Nda, pria dewasa (tua??) yang sedang kasmaran, lebih ABG dari Abg yang sesungguhnya.



Apapun itu, Nda terpikir, apa jadinya, jika kisah ini terjadi pada pria itu. Sanggupkah dia menanggungnya?!?!? Pertanggung jawaban macam apa yang akan dia berikan bagi anak-anaknya?!



Hmm..

Semoga serita ini, bisa membuat kita lebih mencintai apa yang telah kita miliki.



PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU



Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic. Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.



Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas. Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah. Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.



Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja. Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan. Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,



" Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh... dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!



Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku. Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian. Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?" Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku. Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya. Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,



Mario



Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya. Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya. Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.



Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian...

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga. " Mario, suamiku.... Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku... Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku..... Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario. Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya. Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,

Rima"



Di surat yang lain, ".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha......"



Disurat yang kesekian,

".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah. Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya........"



Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya... dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini...

"..............Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit. Tahukah engkau suamiku, Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?"



Jelita menatap Meisha, dan bercerita, " Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi...... aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante..... aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak......" Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.... Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ? Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku....

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Jakarta, 7 Januari 2009

(dedicated to my friend....may you rest in peace...)

17 Jan 2009

Another Tagged HW


Just open my Blog n guessed what?!
I got another HW from my far away sister. Hopefully I can finish it. Here we go.. ^_^

A-Attached or Single? Single
B-Best Friend? Rika, Reza
C-Cake or pie? Cake
D-Day of choice? from Sunday to Friday
E-Essential item? Air, Water, hook n yarn, books and many more
F-Favorite color? Blue, Cream, Maroon, Green
G-Gummy bears or Worms? Gummy Bears
H- Home. Jakarta
I- Indulgence- Books, Craft
J-June or July? Hmm.. both I guess
K-Kids? Not yet
L-Life is not complete without- God, Family, Best Friend, books and rainbow
M-Marriage date- May……….( Maybe YES Maybe NO )
N-Number of magazine subscriptions? None
O-Orange or apple? Orange
P-Phobias? None
Q-Quotes? Do ur best, hope for all goods but prepare for the wors
R-Reason to smile? Just decided to smile n be happy
S-Season of choice? All
T-Tag 5 people –
U-Unknown facts about me - I guess people can easily know about me
V-Vegetables? Almost all
W-Worst habit? clumsy and stubborn
X-X-ray or Ultrasound? haven't decided yet
Y-Your favorite foods? something spicy
Z-Zodiac sign- Taurus

15 Jan 2009



Udah ada beberapa cerita yang mau diposting, tapi kok ga mood ya???

14 Jan 2009

PR dari jauh


Award

Beberapa hari lalu dapet pr dari one of my sis di Kalimantan sana. Sayangnya net di rumah lagi sakit dan kerjaan dikantor lagi agak banyak, jadi ga sempet deh.
Alhamdulillah hari ini kerjaan dah agak berkurang, so bisa menyempatkan diri untuk kerjain Pr.

Jadi, pr nya adalah tentang permohonan waktu ulang tahun. Wahhh udah agak lupa sebenarnya, coz udah lama berlalu, sementara ultah berikutnya masih 4 bulan lagi. Hmmm.. coba di inget-inget ya, tahun kemarin minta apa sama BELIAU.

Rasanya seehhhh.... ini nih yang Nda minta tahun kemarin:
1. Makin deket sama Allah
2. Meng-anak-kan diri ke orang tua
3. Meng-kakak-kan diri ke adek
4. Mensahabatkan diri ke sahabat Nda
5. Cepet selesai kuliahnya
6. Kerjaannya lancar
7. Menjadi manusia yang lebih baik.
8. Makin sering nulis
9. Makin rajin bikin rajutan
10. Dapet pasangan yang sholeh
11. Bisa lebih banyak bantu orang
12. Bisa membaca lebih banyak buku
13. Mulai nulis pake bahasa Inggris
14. Bisa keliling Indonesia
15. Jadi manusia bermanfaat.

Dah selesai Pr nya. Jangan suruh tag ke orang lain lagi yaaa.. Pleasee. Temen-temen Nda di blog yang ini kan belum banyak. Beda klo di MP.

Makasih yaa untuk pr nya ^_^





4 Jan 2009

Red Granny Bag


Hai...
Just wanna share this red and white bag.
I made it last night, and finished it this morning.

It's a gift for my friend's little sister. I choose red, coz she likes that color. Plus, according to my friend, she's an active and cheerful little gal.

Hmmm.. hopefully she'll like it.

FYI, I took the pattern from Sis Tatha 1st book but I enlarge the size.



Me dan permintaan menulis

Orang ga merasa pandai nulis, malah diminta nulis pesan kesan untuk jurnal di salah satu milis yang Nda ikuti. Alasannya? Menurut mods milis, Nda ini penulis yang baik dan juga kritikus yang tajam dan penuh semangat. Ga pernah merasa begitu. Sungguh deh. Apalagi Nda belum setahun di milis ini. Dan setelah mati gaya beberapa saat, akhirnya bisa juga memenuhi permintaan beliau. Untung mintanya yang singkat dan padat, coz Nda cuma berhasil bikin 2 paragraf ajah. Dan lebih untung lagi karna yang diminta menulis bukan cuma Nda. Tapi ada seorang mba lagi. Mba cantik yang baik hati dan lebih senior dari Nda. Baik dari segi umur -kliatan banget ya, nda pengen jadi anak-anak terus :D-, maupun lamanya bergabung dimilis.

:D semoga berkenan dengan tulisan Nda, ya mba ^_^



2 Jan 2009

Me, dan kedudulan awal tahun

Seperti yang sudah orang-orang dekat saya ketahui besama, Nda ini -selain keras kepala- adalah si ceroboh dan pelupa. And I'm not proud of that.

Udah banyak sekali kejadian memalukan karna sifat yang satu itu. Dan hari ini, di awal tahun yang seharusnya jadi momen baik untuk perbaikan diri, Nda melakukan kedudulan itu lagi. Bahkan sampai 2 kali.

Jadi, yang pertama adalah, Nda ga bawa dompet ke kantor. Kenapa bisa lupa?! Ga tau juga. Orang pas ganti tas, *perasaan* sih udah dimasukin dompetnya. Ehh ternyata pas diliat, ga ada. Mana ketauannya udah di dalem kereta. Untung ditas masih ada uangnya. Even cuma pas untuk sekali jalan. Untungnya Nda bawa atm yang biasa buat petty cash, dan masih ada uang pribadi Nda disitu.

Yang kedua, yang barusan ketauan adalah.... Hp Nda ketinggalan di kantor. Gimana Nda bisa tau??? Well.. awalnya Nda mau liat no telp di situ. Cari punya cari, ga ada ditas. Nda inget banget blom ngeluarin apapun dari tas sejak pulang dari kantor tadi. Ya udah, Nda coba telp pake hp bunda. Ehh nyambung. Dan ternyata, ada di Mas Hendra. Legaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!

Tapi tetep aja. Kok bisa-bisanya ya, Nda dudul banget hari ini?! Sampai 2 kali pula!! Oh God, what the hell happened with me?

1 Jan 2009

Me and 1st day of 2009

This is the 1st day of a brand new year. Yup. Today is January 1st 2009. And what am I doing today??

Hmmm.. nothing much. Just spending most of my time for sleeping, bit crocheting and netting (what the hell is netting?!). Nothing serious right??

Anyway.... today I'm also spending some of my time to have conversation with myself. Kinda weird ha?! but that's the way it is. For several days I was in denial mode. Denying that someone I care, already didn't give a damn of me. I convince myself that she still care about me. I mean, she's like a sister for me. But just like what they say, You can't always get what you want in life. Just like me. I have to accept that she, no longer feel comfort with me. Besides, who does?? I'm a stubborn and so outspoken gal. It's already in my blood -since I carried 2 gen outspoken tribes-

So.. my dearest sister, now, I can understand if you took a step backward from my side. If that can make you happy, that do it. I wont blame you. I wont bother or disturb you. I'll always wish GOD will send all the best for you.

^_^






Malaika Humaira (and me?)


Libur Natal dan Tahun Baru Islam kemarin, Nda menghabiskan lebih banyak waktu dirumah (selain nonton ke 21, tentunya). Nda dirumah bukan tanpa kegiatan lhoooo :D. Selama liburan itu, Nda nyelesaiin tas FDWL –dibantuin bunda n shella-. Terus, ngajak mereka ke 21 untuk nonton Madagascar, terus ketemuan sama Rika. Sisanya? Ya untuk baca, blogging n plurking. See.. quite busy, na?!

Salah satu buku yang Nda baca itu judulnya ‘Malaika Humaira’ karangan Zahrotul Atiyah, terbitan Diva Press. Awalnya Nda tertarik buku ini karna dicovernya ada note ‘Kisah Inspiratif Pembangkit Keindahan Hati’. FYI, Nda suka banget buku macam ini. Buku yang memberi inspirasi untuk menjadi lebih baik. Kedua, buku ini diskon :D. Yahh.. untuk orang yang masih hidup from paycheck to paycheck, discount is like rain on the desert. Nda sendiri ga tau kenapa Nda akhirnya memutuskan untuk membeli buku ini. Padahal sebelumnya Nda ambil buku lain. Buku yang judulnya dah sering Nda liat di Gramed. Sementara buku ini, Nda baru tau ya kemarin itu. Nda cuma percaya bahwa in this world, there’s nothing called coincidence. Semua memang sudah digariskan begitu. Dan begitulah adanya antara Nda dengan buku ini.

Yang pertama Nda baca dari buku ini adalah kata pengantarnya. Baru di paragraf satu aja, Nda udah setuju dengan sang penulis. Berikut ini adalah penggalan paragraf pertama itu :
‘ketika kita berani memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seseorang, maka jangan pernah menganggap hal sepele sebagai sesuatu sepele. Sebab, ketika dua orang telah menjalin suatu hubungan hati yang mendalam, maka bisa jadi, hal yang nampaknya sepele akan menjadi sesuatu yang berakibat tidak lagi sepele’.

Hayo ngakuuuu !! pasti kalian juga akan setuju dengan itu kan. Apa???? Ga setuju?? Ya gak papa sih. But next time, coba benar-benar tanya pada diri sendiri ya. Nda yakin.. kalian akan mulai ragu dengan jawaban pertama kalian.

Malaika HumaiRa dan Rehanna Sulastin yang berikrar untuk menjadi saudara sehati. Bukan karena mereka memiliki hubungan darah, tapi karena mereka memiliki hubungan hati. So, mulailah mereka merajut hari dengan kasih sayang -yang sayangnya sering diartikan beda oleh orang lain-. Kenapa? Ya iyalah. Secara mereka sama-sama perempuan. Pasti tetangga kanan kiri akan menganggap mereka adalah 'pasangan'. Ga menyalahkan juga sih. Coz dalam cerita ini, dituturkan kalau mereka saling memperhatikan satu sama lain. Bahkan sering mengabaikan teman-teman satu kosan mereka. Siapa yang ga sebel, hidup berdampingan dengan orang yang menganggap kita ga ada. Mereka pun saling menjaga satu sama lain. Klo yang satu disakiti orang, maka yang lain akan melindungi sekuat tenaga. Dan menurutku, disinilah semuanya bermula. I mean, kadang.. begitu inginnya kita melindungi orang yang kita sayang, namun tanpa sadar, kitalah yang paling banyak dan paling sering menorehkan luka.

Re, seorang gadis cantik ya dipuja banyak pria disekitarnya. Tapi seperti juga yang sering terjadi pada gadis cantik lainnya, pria yang dipujanya, justru yang selama ini menanggapinya dingin. Apa dia menyerah? Tentu saja tidak. Cupid sang dewa asmara pun akhirnya melihat kesungguhannya dan melepaskan anak panahnya. Semua berlangsung baik bagi Re, sampai 2 kejadian buruk menimpanya. Pertama, keluarga sang pangeran -yang notabene- orang berada memaki-maki orangtuanya karna tidak setuju dengan hubungan asmara 2 remaja itu. Berikutnya adalah kecelakaan yang dialaminya. Kecelakaan itu memang menorehkan luka fisik, kakinya tidak sesempurna dulu. Tapi yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa orang yang dianggapnya sahabat, ternyata tidak seperti yang dia bayangkan.

Ra, gadis dengan vonis kelainan pada jaringan otak di hari ulang tahunnya yang ke 17. Yang mengalami kecelakaan motor dan menghantarkannya pada luka batin. Luka, karena setelah kecelakaan itu, statusnya diragukan oleh ayahnya. Mengapa? Karna golongan darahnya berbeda dari kedua orang tua dan saudaranya. Ibunya sudah bersumpah bahwa dia tidak pernah selingkuh, tapi hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa ayahnya berubah sikap pada Ra.

Keduanya bertemu di Jogja. Tempat yang mereka harapkan bisa menyembuhkan luka batin itu. Luka batin itu, perasaan terasing di keramaian, membawa mereka akrab, dan seperti yang sudah Nda bilang di atas, mengikrarkan diri menjadi saudara sehati.

Seperti juga setiap hubungan yang terjadi diantara anak manusia, serumit atau sesederhana apapun, pastilah memiliki pasang surut. Buah dari konflik yang mucul. Begitu juga Re dan Ra. Banyak konflik yang terjadi diantara mereka. Yang pada suatu titik, membuat mereka berpisah. Sayangnya, bukan konflik besar yang melakukan itu, tapi tumpukan dari konflik-konflik kecil yang tidak pernah mereka selesaikan. Seperti gunung es. Kecil di permukaan, namun sesungguhnya besar sekali.

Re cenderung meledak-ledak emosinya. Sedikit egois, tidak mudah dikritik dan cenderung tidak jujur pada perasaannya. Hmm.. mungkin bisa dikatakan sebagi si dominan dalam kisah ini. Si cantik yang berpikiran bahwa tidak semua hal perlu dikatakan.

Ra, si setia dengan sejuta sayang bahkan cinta untuk Re. Cenderung lebih bisa menunjukkan perasaannya (suka, sayang, cemburu, things like that). Sang Pelindung yang membutuhkan jawaban langsung atas setiap pertanyaan.

Bisa menebak kan, kira-kira konflik sepele macam apa yang mereka alami??

Nda suka banget sama tema yang diangkat di novel ini. Mungkin karena saat ini, Nda memiliki hubungan yang kurang lebih seperti ini dengan 2 sahabat. Dengan yang satu, semuanya berjalan baik. Kami sudah bisa bicara terbuka dan menyelesaikan tiap konflik yang ada. Sementara dengan yang satu.... Nda ga ingin suatu hari, dengan yang satu ini, semua berakhir seperti cerita novel ini. Berakhir dengan tidak baik dan membawa penyesalan panjang, yang akan menghantui sepanjang hidup. Karna kata maaf pun, sudah tidak mungkin mendapat jawaban. Nda tidak ingin salah satu dari kami (kemungkinan besar, me) berakhir seperti seorang Malaika Humaira.